Senin, 29 September 2025

Cerpen Anak "Arti Sebuah Dino"

Arti Sebuah Dino

Oleh Sri Rama Yanti

Kiki adalah seorang bocah yang berumur 10 tahun dan penjaga paling setia dari Dino, boneka dinosaurus hijau yang sudah lusuh. Dino bukan hanya sekadar mainan bagi Kiki, ia adalah pemberian hadiah ulang tahun dari almarhum kakek, simbol cinta dan kenangan yang selalu menemani Kiki dimanapun berada. Minggu sore itu, Kiki bersama keluarganya berangkat dari Pekanbaru menuju Kabupaten Kuantan Singingi untuk menonton Festival Pacu Jalur Tepian Narosa. 

“Ibu, pasti seru acara final pacu jalur  di Tepian Narosa” kata Kiki. “Betul Kiki, apalagi Pacu Jalur saat ini viral” sambut Ibu kiki. Mereka asyik berbincang selama perjalanan. 

Tepat siang hari Kiki sampai diacara Pacu Jalur. Ribuan penonton dari berbagai pelosok memadati tepian sungai.Tepian Narosa Teluk Kuantan gemuruh. Ribuan orang memadati tepiannya, semuanya berteriak menyemangati jalur kesayangan. Kiki berdesakan di tengah keramaian bersama Ibunya, Dino dipegang erat di tangannya.

“Ayo, Kiki kita duduk di tribun utama itu” sambil telunjuk Ibu mengarah disuatu tempat. 

Merekapun berjalan berdesakan ditengah keramaian menuju tribun yang dituju. Kiki akhirnya duduk disamping ibu muda yang menggendong anak berumur 2 tahun. Tiba-tiba anak kecil kecil itu menunjuk-nunjuk Dino milik Kiki sambil merengek rengek. Ibu muda kesulitan menenangkan anaknya. 

“Bunda, au...au itu”ucap sianak kecil yang belum lancar berbicara itu sambil menunjuk Dino ditangan Kiki. Dia meraung raung sekuat-kuatnya sehingga ibu muda itu kesulitan untuk menenangkannya. Hati Kiki yang lembut luluh. Ia meminjamkan Dino kesayangannya pada anak itu.

Anak manis, coba lihat Dino. Mau pinjam sebentar?" tanya Kiki, hatinya yang lembut tidak tega melihat si anak menangis.

Ibu muda itu tampak lega. "Terima kasih, Nak! Janji sebentar saja ya, Dek," katanya kepada anaknya.

Si anak langsung terdiam, memeluk Dino erat-erat. Kiki senang bisa membantu. "Ayo, nak, kita beli air minum dulu. Panas sekali," ajak Ibu Kiki. Kiki mengangguk dan berpesan kepada Ibu anak itu, "Saya dan Ibu beli minum di sana ya, Tante. Jangan pergi jauh-jauh!"

Namun, yang terjadi selanjutnya adalah kekacauan. Tribun yang mereka tempati harus dikosongkan untuk tamu dari pejabat dan semua pengunjung berhamburan keluar tribun. 

Saat Kiki kembali, mereka tidak menemukan tante dan anaknya itu. Ibu dan anak kecil yang memegang Dino sudah hilang tanpa jejak.

Jantung Kiki berdetak kencang. "Bu! Mereka... mereka tidak ada!". Kiki dan Ibunya panik. Mereka mendorong kerumunan, mencari sosok ibu muda dan anak kecil itu. Mustahil! Di tengah padatnya penonton Pacu Jalur yang bergerak, mencari dua orang asing seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Air mata Kiki tak terbendung. Ia bukan hanya sedih karena kehilangan Dino, tapi juga merasa bersalah karena meminjamkannya kepada orang yang tidak dikenalnya.

"Dino... itu boneka dari Kakek, Bu!" isaknya. "Aku harus menemukannya!"

Ibu Kiki yang sigap langsung menggandengnya. "Tenang, Nak. Kita cari bantuan." Mereka berdua berjalan cepat menuju bagian informasi yang terletak di dekat panggung utama. Ibu menjelaskan kejadian itu kepada petugas yang bertugas.

Tak lama kemudian, sebuah suara terdengar dari pengeras suara yang menggelegar di sepanjang tepian sungai.

"PERHATIAN! Bagi seorang Ibu dengan anak kecil laki-laki memegang boneka dinosaurus berwarna hijau lusuh, dimohon segera menuju bagian Informasi. Boneka tersebut sangat berharga bagi pemiliknya, Saudara Kiki."kata petugas dengan lantang.

Kiki berdiri gelisah di samping Ibunya. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Pengumuman itu diulang berkali-kali, tapi tidak ada yang datang.

"Bagaimana kalau mereka sudah pulang, Bu? Bagaimana kalau Dino dibawa jauh?" Tiba-tiba, kebahagiaan Festival Pacu Jalur  itu terasa pahit. "Kita tidak akan menyerah, Sayang," kata Ibu Kiki, memeluknya. "Kita sudah berusaha. sekarang, kita doakan Dino bertemu dengan orang yang baik."

 “Ibu...mana Dino Kiki” ucap Kiki sambil menangis.

Setelah 1 jam berlalu, Kiki dan ibunya memutuskan untuk pergi. Gemuruh sorakan penonton yang bersemangat menyaksikan jalur Tuah Datuak Keramat Imbang memimpin di lintasan terasa mengejek kesedihan Kiki. Sebelum meninggalkan bagian informasi, Ibu Kiki sempat meninggalkan nomor telepon-nya kepada petugas.

Mereka berjalan gontai menuju parkiran. Tepat ketika Kiki menunduk memandangi tangannya yang kosong, ponsel Ibu Kiki berdering nyaring. Panggilan masuk dari nomor asing.

Wajah Ibu Kiki berubah tegang, lalu terkejut, dan akhirnya lega. "Alhamdulillah! Mereka menelepon, Ki! Mereka sedang di bagian Informasi! Ternyata tadi mereka harus segera naik perahu penyeberangan dan tidak sempat menunggu kita kembali. Mereka sudah mencari kita!" seru Ibu Kiki.

Ternyata, setelah kembali ke seberang sungai, Ibu muda itu merasa tidak enak hati karena memegang barang berharga milik orang lain. Ia kembali ke bagian informasi namun Kiki dan ibunya sudah pergi. Beruntung, ia bertemu petugas yang telah menyimpan kontak Ibu Kiki.

Kiki dan Ibunya bergegas menuju Tribun Utama, tempat yang disepakati sebagai titik temu. Di sana, mereka melihat ibu muda itu bersama anaknya.

Ibu muda itu langsung mendekat. "Syukurlah kalian datang! Kami sungguh minta maaf. Kami harus buru-buru menyeberang dan tidak sempat mencari kalian," katanya dengan nada menyesal.

Kiki menatap anak kecil itu dengan antusias. Ia mencari Dino, boneka kesayangannya. Namun, ia terdiam. Tangan kecil anak itu kosong.

"Dino... mana, Dek?" tanya Kiki, suaranya tercekat.

Ibu muda itu terkejut. "Astaga! Tadi dia masih memeganginya! Mungkin jatuh lagi di sekitar sini saat kami menunggu."

Jantung Kiki mencelos. Setelah perjuangan panjang, Dino hilang lagi? Kali ini, Kiki menangis sejadi-jadinya sambil berlutut. Kemudian Ia melihat ke bawah bangku, menyentuh rumput di sekelilingnya, dan memeriksa pot bunga besar di dekatnya. Nihil.

Ibu Kiki, Ibu anak kecil itu dan petugas yang ikut menemani mereka ikut mencari dengan panik.

"Lihat sekeliling saja, Nak. Siapa tahu terselip," kata Ibu Kiki.

Mata Kiki kemudian melihat sesuatu yaitu tong sampah yang dilapisi plastik besar berwarna hitam  yang penuh dan tutupnya sedikit terbuka, terletak tak jauh dari bangku. Tong sampah itu baru saja digunakan oleh seorang pengunjung yang membuang sisa kotak makanan.

Kiki berpikir cepat. Anak kecil itu mungkin mengira Dino sudah tidak penting dan membuangnya saat sang Ibu lengah. Atau, anak itu mungkin hanya menjatuhkannya, dan petugas kebersihan mengira itu sampah.

Dengan hati berdebar, Kiki berjalan menuju tong sampah. Ia ragu, takut, dan jijik, tetapi ia harus melakukannya. Ia menarik tutup tong sampah itu dengan susah payah.

Kiki menjinjitkan kakinya, mencondongkan badan, dan menyisir tumpukan plastik, kertas minyak, dan botol bekas di lapisan teratas.

Tiba-tiba, di antara bungkus nasi yang kusut, Kiki melihat warna hijau lusuh yang sangat ia kenali!

"DINO ……!"

Kiki menjangkau masuk, mengabaikan bau tak sedap, dan menarik keluar boneka dinosaurus kesayangannya. Dino basah dan sedikit kotor, tapi utuh.

Kiki memeluk Dino erat-erat. Air mata yang tadi tertahan akhirnya tumpah, namun kali ini air mata lega dan bahagia. Semua orang di sekelilingnya terdiam, terkejut melihat penemuan itu.

"Ya Tuhan, Nak! Maafkan anak saya. Sungguh tidak sopan," kata Ibu muda itu, merasa sangat bersalah.

Kiki menggeleng. Ia menyeka air matanya dan memeluk Dino yang bau. "Tidak apa-apa, Tante. Aku senang dia kembali. 

Sore itu, Kiki membawa Dino pulang kembali dengan perasaan bahagia ditambah lagi jalur idola Kiki  yaitu Bintang Emas Cahaya Intan menjadi pemenang pada Festival Pacu Jalur Tepian Narosa 2025.


Minggu, 21 September 2025

Cerpen Udin, Sang Penjaga Balimau Kasai

Udin, Sang Penjaga Balimau Kasai

Oleh: Sri Rama Yanti

Disebuah desa terpencil dekat tepian sungai Kampar hiduplah seorang anak laki-laki yang tinggal bersama kakeknya yang sangat sepuh. Anak itu bernama Udin. Udin adalah seorang  anak yang berumur empat belas tahun dengan perawakan kurus, berkulit hitam dan memilki semangat yang tak kenal lelah. Udin sudah lama menjadi anak yatim piatu . Udin sangat mencintai kampungnya dan kondisi alam tempat tinggalnya.

Seperti biasanya setiap pagi Udin mandi di sungai Kampar. Ketika mandi, Udin merasa ada yang salah dengan Sungai Kampar. Sungai yang selama ini menjadi nadi desa mereka, kini mulai berubah. Bau amis yang aneh tercium, dan buih-buih putih tebal mengambang di permukaan air, tersangkut di antara batang-batang pohon. Ini adalah bencana, apalagi bagi Udin yang sangat menantikan tradisi Balimau Kasai. Balimau Kasai adalah tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun, mandi dengan air dari sungai Kampar yang dicampur dengan perasan jeruk dicampur dengan ramuan tradisional seperti beras,kunyit dan bunga bunga. Tradisi ini dilakukan satu hari sebelum datangnya bulan suci Ramadan.

Sejak enam bulan lalu, suasana desa mereka memang sudah tidak seperti dulu lagi semenjak tuan Riko datang kedesa mereka. Tuan Riko, seorang pengusaha kaya raya dari kota datang dan membeli lahan di hulu sungai. "Kami akan membangun pabrik pengolahan kelapa sawit di sini," katanya di hadapan seluruh warga. "Akan ada banyak pekerjaan, desa ini akan maju!" tambahnya lagi.

Sebagian besar warga terlena. Mereka tergiur dengan melihat uang yang banyak dan janji-janji manis yang diucapkan tuan Riko. Hanya segelintir orang yang ragu, termasuk Kakek Udin, seorang tetua adat yang sangat dihormati. "Hati-hati, rezeki tidak akan berkah jika datang dari sungai yang ternoda," Ucap kakek dengan nada pelan namun tegas.

Hari Balimau Kasai semakin dekat,  kecemasan Udin semakin memuncak. Seminggu yang lalu, ia melihat sebuah pipa besar tersembunyi di balik semak-semak, mengalirkan cairan keruh dan berbau busuk ke sungai. Itu pasti dari pabrik Tuan Riko.

Udin berlari sekuat tenaga menemui Kakek. "Kakek, ini gawat! Sungai kita diracuni!" katanya dengan nafas terengah-engah.

Kakek hanya menghela nafas panjang sambil berkata "Sudah Kakek duga. Tapi, banyak orang yang takut bicara. Mereka butuh pekerjaan, Udin. Mereka percaya pada janji Tuan Riko."

Pada rapat desa terakhir menjelang Balimau Kasai, Udin memberanikan diri. Meski suaranya bergetar, ia berdiri di hadapan semua orang. "Kita tidak bisa melakukan Balimau Kasai di air kotor! Ini bukan hanya masalah mandi, tapi janji kita kepada nenek moyang kita! Balimau Kasai adalah tentang membersihkan diri dan sungai, bukan mengotorinya!"

Tuan Riko, yang juga hadir, tertawa sinis. "Ah, cuma tradisi kuno. Airnya sedikit keruh tidak akan membahayakan dan membunuh siapa pun. Lagipula, saya punya solusi. Kita bisa mengadakan Balimau Kasai di kolam renang buatan saya. Lebih bersih dan modern!"

Beberapa warga mengangguk, terpengaruh oleh ucapan Tuan Riko. Mereka tampak ragu antara menjaga tradisi dan mendengarkann ucapan tuan Riko. Udin merasa hatinya teriris-iris. Kata-kata Tuan Riko tidak hanya merendahkan tradisi, tetapi juga merendahkan harkat martabat desa mereka.

Malam itu, Udin tidak bisa tidur. Bayangan sungai yang tercemar dan wajah khawatir kakek terus menghantuinya. Ia berpikir keras. Berdebat dengan Tuan Riko tidak akan berhasil. Ia butuh cara lain yang bisa menggerakkan hati orang-orang.

Keesokan paginya, ia mengumpulkan teman-temannya di tepi sungai. "Kita tidak bisa biarkan ini terjadi! Kita bersihkan sungai ini sendiri!" ajaknya.

Nila, temannya, menatapnya ragu. "Tapi, bagaimana? Sungai ini terlalu besar, sampahnya terlalu banyak."

Udin tidak menyerah. "Kita tidak bisa membersihkan semuanya, tapi kita bisa menunjukkan tekad kita. Jika kita membersihkan satu bagian, mungkin yang lain akan ikut membantu!"

Dengan tekad bulat, mereka mulai bekerja. Dengan sarung tangan seadanya, mereka memungut sampah plastik dan botol yang mengambang. Mereka menyingkirkan ranting-ranting yang tersangkut dan membersihkan lumpur di tepi sungai. Kakek datang dan ikut membantu, membawa kantong-kantong besar.

"Kerja bagus, Cucu," puji Kakek. "Inilah makna Balimau Kasai yang sesungguhnya."

Aksi Udin dan teman-temannya menarik perhatian warga. Beberapa ibu-ibu yang awalnya memilih diam, kini ikut membawa sapu lidi dan karung. Para pemuda yang tadinya hanya menonton, kini ikut menceburkan diri, membantu membersihkan bagian sungai yang lebih dalam. Semangat gotong royong menyebar seperti percikan api.

Rupanya, Tuan Riko melihat semua itu. Ia datang ke tepi sungai, wajahnya memerah. "Apa-apaan ini? Kalian membuang-buang waktu!" kata tuan Riko

Kakek berdiri tegak, memandang Tuan Riko dengan tatapan tajam. "Tuan Riko, ini bukan buang-buang waktu. Kami sedang menunjukkan bahwa Balimau Kasai tidak bisa diganti. Nilai-nilai di dalamnya jauh lebih berharga daripada semua uang yang Tuan tawarkan."

Tuan Riko terdiam. Ia melihat semangat gotong royong yang tidak pernah ia temui di kota. Ia melihat kebersamaan yang tak bisa dibeli. Ia menatap wajah-wajah tulus warga desa yang bekerja keras demi tradisi mereka.

Malam harinya, setelah sungai terlihat lebih baik, Tuan Riko menemui Kakek dan berkata "Saya salah, kakek. Saya tidak mengerti. Saya akan menghentikan pembuangan limbah ke sungai. Dan saya akan membangun sistem pengolahan limbah yang lebih baik agar air tidak tercemar lagi."

Hari Balimau Kasai akhirnya tiba. Sungai kembali mengalir dengan lebih jernih. Aroma wangi dari bunga dan dedaunan yang dibawa warga memenuhi udara. Udin menceburkan diri, merasakan air sungai tidak hanya membersihkan tubuhnya, tetapi juga hatinya dari rasa cemas dan kekhawatiran.

Balimau Kasai tahun itu menjadi yang paling berkesan. Tradisi itu tidak hanya terlaksana, tetapi juga menjadi bukti bahwa kearifan lokal bisa menjadi kekuatan untuk melawan segala tantangan modern. Dan Udin, anak kecil yang berani, telah membuktikan bahwa satu keberanian bisa menggerakkan seluruh desa.

 

Rabu, 11 Januari 2023

Puisi

 

Sinar Dunia

Karya Sri Rama Yanti



Disudut ruang itu

engkau duduk dengan wajah sendu

meraba raba dunia dengan kerapuhanmu

sambil menunggu harapan yang tak pasti

 

Tubuhmu yang mulai ringkih

 berpikir untuk terus bertahan hidup

dengan gaji seadanya tidak membuatmu putus asa

engkau terus mengibarkan semangat

demi secercah harapan untuk penerus negeri ini

 

Sepatu yang mulai menganga

Tas yang robek sana sini

Baju yang kusam tak berona

tidak memudarkan sinar wajahmu

yang selalu menjadi penerang negeri ini

 

Teruslah engkau menjadi sosok guru

selalu menyebarkan cahaya ilmu dalam setiap tarikan nafasmu

Ilmumu bagaikan magnet yang selalu membuat kami haus ilmu

 

Engkau guruku

selalu berkarya walau dapurmu belum tentu berasap

selalu tersenyum walau hidupmu susah

apapun kondisimu seisi dunia tahu

bahwa engkau adalah sinar dunia yang kelak menjadi penghuni surgaMu


Pekanbaru 18 November 2022

BUDAYAKAN MEMBACA SEJAK DINI MEMBENTUK

PRIBADI BERKUALITAS

Desmarita Susantie, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia
SMP YLPI P. Marpoyan

Literasi kalau kita lihat secara umum diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memperihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, Cuma 1 orang saja yang rajin membaca. Hal ini tentu membuat kita miris dan malu, karna bangsa kita yang begitu besar dan luas ini yang penduduknya kurang lebih 276,4 juta jiwa hanya segelintir orang saja yang peduli dan yakin akan pentingnya membaca buku.

Membaca saat ini bukanlah hal yang mengasyikan dimasyarakat kilta, terutama kalangan generasi muda. Mereka lebih senang bermain bola, main game, internet dan lainnya yang tak ada hubungannya dengan membaca. Bahkan menonton   televisi berjam-jam lebih disukai. Barangkali kita perlu merenung, sejauh mana peranan orang tua, keluarga, sekolah dan masyarakat untuk ikut andil dalam membudayakan membaca dari sejak dini.

            Menjadikan membaca sebagai budaya di kalangan remaja generasi penerus bangsa bukanlah hal yang tidak mungkin. Namun juga bukan hal yang mudah untuk di lakukan. Untuk itu perlu kiranya strategi-strategi yang dapat memotivasi remaja untuk lebih menyukai bacaan. Misalnya dengan ada pustaka kecil dirumah, kelas, sekolah dan tempat bermain mereka. Dengan menyajikan buku-buku bacaan yang mereka minati. Dan menjadikan membaca suatu yang wajib, baik dirumah apalagi disekolah.

            Adalah sebuah proses ketika membaca dijadikan sebuah budaya dikalangan yang sangat jauh dari kebiasaan membaca. Namun demikian janganlah hal tersebut menjadikan kita pesimis bahwa membaca tak bisa dijadikan budaya dikalangan generasi muda kita. Memberikan pemahaman tentang pentingnya membaca juga perlu ditanamkan pada usia dini. Agar kelak mereka menjadi terbiasa dengan hal-hal yang berhubungan dengan membaca. Karena membaca akan menghantarkan mereka kedunia yang memiliki wawasan luas.

            Terkadang tanpa kita sadari, kita telah memberikan contoh kepada generasi muda bahwa kita juga engan untuk selalu menjadikan membaca sebagai budaya. Kita lebih sering menyuruh, memerintah bahkan sampai memaksa anak-anak untuk rajin membaca, tanpa kita mampu memberikan contoh bahwa kita suka membaca. Membaca menjadi hal yang membosankan dan terkadang menjemukan bagi anak-anak dan para remaja.

            Kalaulah kita boleh bercermin pada negara-negara yang telah maju, maka kita bisa melihat bahwa negara-negara besar yang maju itu, adalah negara-negara yang menjadikan membaca sebagai budaya. Menjadikan membaca sebagai suatu yang mengantarkan mereka menuju kesuksesan.

Marilah kita mulai membaca dari saat ini dari diri sendiri, menjadikan contoh tuk generasi muda bahwa membaca itu sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang menjadikan hidup lebih bermakna dan berwawasan. Dengan banyak membaca dapat membuka mata dan cakrawala kita. Dengan banyak membaca menjadikan kita bermartabat.

Bangsa yang hebat adalah bangsa yang memiliki ilmu dan dapat menjadikannya sebagai landasan dalam menentukan sikap. Bangsa yang besar tidak akan basar tanpa adanya ilmu sebagai penompangnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang peduli terhadap arti penting sebuah bacaan. Membaca menghantarkan kita untuk dapat terus berjalan dijalan yang lebih baik.

Membaca merupakan jembatan menuju bangsa yang lebih maju. Masihkah kita menganggap membaca hanyalah untuk mengisi waktu kosong, bukan menjadikannya sebagai bagian dari budaya hidup, budaya membaca disetiap waktu dan tempat.  Tentunya kita mempunyai harapan yang besar terhadap generasi muda kita, harapan bangsa untuk ke depan lebih mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang tak hanya dilihat sebelah mata.  

            Membiasakan diri membaca berarti kita telah memposisikan diri sebagai seorang yang beritelektual dan membudaya kegiatan positif yang dapat melatih otak untuk menyerap segalah pesan dan informasi yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Dengan membiasakan membacadi kalangan pelajar merupakan satu hal yang amat penting.Esensial dari anak-anak yang rajin membaca akan membantu perkembangan pola pikir serta kepribadian mereka yang lebih baik dan berwawasan.

Selain itu, dengan membiasakan Budaya Membaca juga mencerminkan rasa suka dan cinta dengan ilmu, karena salah satu yang menjadi sarana sangat penting yaitu menunjang tercapainya suatu pendidikan, juga kepribadian yang dipengaruhi dari Budaya Membaca yang ada.Jadi akan sangat terlihat efeknya kedepan, khusunya bagi para pelajar, diantara mereka yang berilmu serta terdidik dengan baik tidak akan mudah terpegaruh hal-hal yang akan merusak masa depan mereka. Mereka yang membaca juga akan sangat ketara statusnya sebagai pelajar yang berwawasan luas juga terdidik. Oleh karena itu sebagai pelajar harus mengerti betapa pentingnya Membaca bagi kehidupan kita sehari-hari.

Membaca merupakan proses yang memerlukan waktu tentunya tidak bisa instan, harus ada kemauan bahkan paksaan untuk bisa secara berkesinambungan membudayakan kebiasaan membaca. Lingkungan ikut memberi pengaruh yang sangat besar terhadap hal tersebut. Namun tidak mmenutup kemungkinan kebiasaan baik ini bisa kita lakukan, asal setiap kita saling mengingatkan betapa pentingnya membaca bagi kelangsungan hidup kita dimasa mendatang.

Budaya Membaca di kalangan Pelajar akan membentuk pelajar yang berintelektual, serta meiliki kepribadian yang luhur. Hal itu dibuktikan dengan perkembangan cara berfikir mereka untuk kedepan serta kritis dengan lingkungan mereka. Manfaat-manfaat tersebut belum seberapa nilainya, andai saja pelajar sekarang ini menjadikan kegiatan membaca sebagai aktifitas keseharian, maka Jangan heran jika pada masa yang akan datang mereka mampu berkoar dan menunjukan kreatifitasnya di mata dunia.

Ada satu pernyataan dari imam syafi’i yang berbunyi:

“Barang siapa yang menginginkan dunia maka hendaklhah dengan ilmu, dan barang siapa menginginkan akhirat maka hendaklah  dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kedua-duanya maka hendaklah dengan ilmu”.

Dari pernyataan tersebut menunjukan bahwa apa saja yang kita inginkan dapat menjadi sebuah kenyataan apabila kita bersungguh-sungguh dan mempunyai keinginan untuk mendapatkannya ilmu. Dan dikatakan seseorang berilmu apabila seseorang memiliki kegemaran membaca buku telah tumbuh dengan baik sedari masih anak-anak serta ditengah keseharian orang tersebut dan menjadikan membaca bagian penting dalam keseharian.

Maka dari itu, bukan sebuah hal yang mengagetkan apabila orang-orang berilmu akan dengan mudah menguasai dunia ketimbang mereka yang tidak memiliki ilmu yang mendukung. Karena kuncinya hanya satu, Membaca. Dan hal yang paling menyenangkan serta representatif untuk membaca adalah kala kita masih menjadi pelajar, adanya tuntutan belajar dari sekolah akan sangat membantu pelajar untuk membaca. ini akan sangat sulit jika dibandingkan dengan kondisi mereka yang sudah bekerja. Mereka para pekerja akan lebih sulit untuk menentukan waktu membaca, dikeranakan beban pikiran yang menambah lelah otak mereka.

Oleh karena itu marilah kita para pelajar buka buku kita bersama-sama dan bacalah! marilah wujudkan impian kita menjadi orang hebat melalui informasi dan manfaat dari yang kita baca. Mari junjung tinggi-tinggi ideologi betapa pentingnya kebudayaan membaca dikalangan pelajar agar mereka tahu bahwa pada saat mereka tidak membaca bumi berhenti untuk menolak kehidupan mereka.

 

 

                                                                                               


Senin, 09 Januari 2023

Essay

  

STRATEGI PENINGKATAN LITERASI

DI SMP YLPI P. MARPOYAN

Oleh Sri Rama Yanti,S.Si

            Literasi di Indonesia masih memprihatinkan dan tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain. Menurut ranking terbaru PISA, Indonesia berada di peringkat 72 dari 78 negara berdasarkan yang diumumkan oleh The Organisation for Economic Co-peration and Development sedangkan menurut hasil penelitian tentang Indeks Aktivitas Literasi Membaca yang dilakukan Kemendikbud pada tahun 2019 terhadap 34 provinsi menyatakan bahwa indeks literasi nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah. Hal ini menjadi permasalahan besar bagi Indonesia khususnya bagi pelajar Indonesia yang nantinya akan menjadi penerus generasi bangsa . Oleh sebab itu pemerintah menggiatkan gerakan literasi sekolah yang lebih diarahkan pada anak usia sekolah dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Atas.

            Literasi adalah suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis. Literasi sangat penting karena dengan literasi menghasilkan sumber daya manusia yang berpengetahuan luas dan berkualitas. Literasi dapat dimulai dengan membaca buku baik buku elektronik maupun berbentuk cetak seperti buku pengetahuan, novel, cerita pendek, komik, majalah, koran, dan lain-lain

            Literasi sekolah merupakan salah satu bentuk kegiatan yang sangat bermanfaat untuk digalakkan oleh semua warga sekolah. Untuk itu SMP YLPI P.Marpoyan mendukung program Kemndikbud mengenai literasi melalui Gerakan Listerasi sekolah (GLS) yang dikoordinir oleh Tim Pustaka sekolah. Gerakan Literasi Sekolah di SMP YLPI P.Marpoyan  diharapkan akan menciptakan ekosistem pendidikan yang literat. Ekosistem pendidikan yang literat adalah lingkungan yang menyenangkan dan ramah siswa, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar dan menumbuhkan semangat ingin tahu serta cinta pengetahuan.

            SMP YLPI P.Marpoyan adalah sekolah swasta dibawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau  yang  memiliki fasilitas yang memadai untuk menggiatkan Gerakan Literasi Sekolah. Saya selaku kepala sekolah bersama guru  berusaha semaksimal mungkin untuk menyediakan fasilitas untuk GLS seperti membuat pojok baca di dalam kelas dan diluar kelas, membuat panggung kreasi sebagai wadah pengembangan minat bakat dan melengkapi fasilitas pustaka seperti komputer dan pengadaan buku bacaan. Setelah melengkapi sarana prasarana tersebut, sekolah merancang sebuah program yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat literasi dan minat bakat siswa. Tentunya untuk menyusun program GLS ini, terlebih dahulu kami melakukan pengamatan kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana minat baca siswa.

            Dari hasil pengamatan sekolah, penyebab rendahnya minat baca siswa SMP YLPI P.Marpoyan adalah kebiasaan membaca belum diterapkan sejak kecil, motivasi membaca siswa masih rendah, kondisi lingkungan keluarga yang tidak menjadikan membaca sebuah kebiasaan, dan maraknya penggunaan gawai (gadget). Atas kondisi tersebut sekolah membuat kegiatan GLS melalui program pustaka yang dikenal dengan pustaka Literasi, Pustaka Menulis, Pustaka Mengajar dan Pustaka Berbagi. Program ini dibuat selain untuk menumbuhkan minat baca siswa, program ini juga dapat mengembangkan kemampuan menulis siswa dan mengembangkan minat bakat siswa dibidang bahasa.

            Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah SMP YLPI P.Marpoyan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1.    Pustaka Literasi

·         Guru dan siswa membaca buku selama 10 menit diawal pembelajaran pagi didalam kelas

·         Menjadikan pustaka berbasis digital yaitu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikanya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan internet.

·         Mengadakan berbagai perlombaan yang memancing minat baca siswa untuk menghasilkan karya seperti lomba menulis puisi,membuat poster, pemilihan duta literasi dan penghargaan untuk pejuang pustaka (siswa yang aktif membaca).

 

2.    Pustaka Menulis

·         Membuat pelatihan menulis bagi siswa yang berbakat dibidang bahasa, hasil pelatihan ini berupa karya kumpulan cerpen dan dibukukan

 

3.    Pustaka Mengajar

·         Memberikan bimbingan belajar bagi murid untuk membantu tugas tugas akademis yang didampingi guru dan tutor sebaya

 

4.    Pustaka berbagi

·         Menumbuhkan karakter siswa untuk berbagi seperti hibah buku, berbagi makanan dan minuman untuk pengunjung pustaka dan study banding.

            Besar harapan sekolah untuk dapat melaksanakan program pustaka tersebut secara berkelanjutan agar tujuan Gerakan Literasi Sekolah dapat terwujud. Program sekreatif apapun jika hanya semangat dilakukan diawal awal saja sedangkan selanjutnya enggan melaksanakannya maka akan menjadi percuma. Jadi apapun contoh program gerakan literasi sekolah (GLS) yang hendak dilaksanakan, pasti membutuhkan komitmen atau dukungan dari semua pihak yang terlibat di dalam sekolah. Seluruh warga sekolah bisa bersama sama menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membaca dan membudayakan membaca di sekolah.

            Oleh karena itu, dalam rangka mendukung program gerakan literasi sekolah, semua warga sekolah wajib ikut serta dalam meningkatkan budaya membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi contoh atau teladan bagi pelajar lainnya. 


                 Video singkat tentang program pustaka di acara Puncak HGN Jakarta


 

 

 

 

 

 



Selasa, 29 Maret 2022

Gebyar Milad YLPI Ke-65 Bersama SMP YLPI P.Marpoyan Sesi 1


 



Dalam kesempatan ini YLPI akan Milad ke 65 tahun, untuk itu dalam memeriahkan Milad tersebut SMP YLPI akan mengadakan beberapa kegiatan untuk turut andil merayakan Milad YLPI. Kegiatan yang dibuat dalam bentuk menggalakkan Riau Hijau melalui Launching Bank Sampah Mini sekolah dengan bekerjasama dengan Bank Sampah Mutiara binaan Pegadaian dan kegiatan lomba yang menumbuhkan semangat berkarya dan berprestasi dikalangan pelajar dan civitas akademi.

Rabu, 30 Juni 2021

Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya



SMP YLPI P. Marpoyan adalah sekolah swasta yang berdiri tahun 1984  dibawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Riau (YLPI Riau). Sekolah ini terletak di lingkungan pendidikan karena YLPI Riau memiliki beberapa satuan pendidikan dari tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi yang beralamat di jalan Kaharuddin Nasution kecamaan Bukit Raya kelurahan Air Dingin. Semenjak tahun 2010 SMP YLPI P. Marpoyan terakreditasi A dan ini merupakan hasil perjuangan seluruh warga sekolah untuk meningkatkan akreditasi dari B menjadi A. Jika dilihat dari fisik bangunannya SMP YLPI P.Marpoyan merupakan sekolah yang sederhana. Bangunannya terdiri dari 6 ruang kelas, 1 ruang majelis guru, 1 ruang UKS yang bergabung dengan ruang BK, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang OSIS, 1 ruang pustaka, 1 ruang laboratorium IPA, 2 ruang kelas digabung menjadi ruang sholat , 1 kantin dan 6 toilet. SMP YLPI P. Marpoyan belum memiliki lapangan voli/basket, musholla, laboratorium komputer dan ruang Aula. Walaupun adanya beberapa kekurangan dalam bentuk sarana prasarana seluruh warga sekolah tetap berusaha mencari solusi dalam memenuhi kebutuhan belajar murid.

Sejarah Bolu Kemojo

  Bolu Kemojo, Warisan Budaya Tak Benda dari Negeri Melayu Riau Oleh; Sri Rama Yanti           Apakah Anda mengenal b olu k emojo? Bolu k em...